Grosir Boneka Promosi Pegadaian

Gunung Papandayan adalah gunung yang telah memanjang di selatan kota Bandung. Gunung ini telah terletak di Kabupaten Garut cukup populer di kalangan warga Jawa Barat karena banyaknya wisatawan dan pendaki yang telah mengunjungi gunung ini.

Untuk mendaki gunung ini bisa dengan melalui cisurupan (garut), melalui jalur pengalengan (sedep) atau melalui cileleuy

Mendaki melalui cisurupan adalah jalur yang paling sangat menyenangkan, menyenangkan dalam arti tidak perlu jalan banyak, tapi sudah sampai di objek wisata. Karena melalui cisurupan, pendakian akan dihemat dengan menggunakan angkutan bak terbuka. Sehingga kita hanya perlu hiking 1 jam saja untuk melihat kawah papandayan. Untuk dapat mengapai puncaknya pun tidaklah sulit, kita hanya perlu berjalan kaki 2 jam. Track pun lumayan landai.

Obyek wisata disini yang sangat special adalah kawah papandayan yang masih mengepulkan asap belerang, selebihnya hanyalah pemandangan alam, dan hamparan luas hutan. Lumayan menyenangkan. Jika anda menyukai alam.

Jika anda ingin camping anda juga dapat camping di puncak gunung, atau di pondok selada, Namun pondok selada masih tertutup untuk camping dikarenakan rawan longsor.

Menurut kami jalur yang paling menyenangkan adalah pergi lewat cisurupan dan kembali lewat cisurupan lagi. Karena melalui cisurupan, fasilitas transportasi cukup tersedia. Sehingga anda tidak akan menemukan kesulitan apabila ingin pulang. Cukup melelahkan juga jika anda harus berjalan kaki turun gunung.

Kami juga sangat-sangat tidak menyarankan anda mencoba untuk turun lewat jalur cileleuy, Karena anda akan mencapai kebun teh, yang luasnya berhektar2, dan jalan nya pun berkelok-kelok, yang parah nya anda akan sampai di desa terpencil, dimana tidak ada angkot, jalan raya pun sangat jauh dari desa tersebut. Serasa terdampar di tempat terpencil. Tidak ada truk sayur kosong disini, karena mengangkut hasil bumi dari lading para petani. Tidak ada angkot ataupun ojek. Karena didesa ini hanya ada motor trail, dan mobil-mobilan (mobil tua).

TEMPAT WISATA GUNUNG PAPANDAYAN
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »


Warning: file_get_contents(http://morosakato.com/seo.php): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/property/public_html/index.php on line 252